Cara mengobati pasien schizophrenia dengan Terapi dan Pengalaman - JKW-TGB

Cara mengobati pasien schizophrenia dengan Terapi dan Pengalaman

Sebelum ilmu pengetahuan semaju sekarang, berbagai macam terapi yang (kita di masa sekarang akan melihatnya) kurang manusiawi dan (ternyata) ga efektif, diaplikasikan ke penderita schizophrenia.

Beberapa contoh terapi tersebut mulai dari dikurung di instansi dan gak diapa-apain, disemprot air, sebagian otaknya dioperasi dan diangkat, disetrum, dikasi insulin dalam jumlah banyak yang bikin si pasien keringetan, kejang, sampe koma, macam-macam deh! Itu semua dilakukan ketika manusia belum mengerti penyakit ini secara mendalam sehingga cara penanganannya juga ngaco dan ga membantu secara efektif sama sekali.

Baca Juga


Itulah kenapa gw sangat bersyukur atas kemajuan teknologi dan farmasi sehingga hal-hal mengerikan dan tidak manusiawi seperti itu gak perlu terjadi lagi, setidaknya di lingkungan profesional medis. Pengobatan schizophrenia pada saat ini berfokus pada penanganan gejalasa psikotiknya (delusi, halusinasi, dll). Obat-obatan yang diberikan berupa obat anti-psikotik seperti chlorpromazine, clozapine, haloperidol, dll.

Gw gak akan bahas obat anti-psikotika secara detail. Pada prinsipnya, obat-obatan ini bertujuan untuk mengatur fungsi dopamin (yang gak seimbang sesuai yang sudah disebutkan di atas) supaya kembali menjadi seimbang. Jika fungsi dopamin bisa diseimbangkan, diharapkan gejala psikosis mereda dan si pasien bisa mulai keep in touch lagi dengan realita. Jika mereka sudah tenang dan fase akut sudah lewat, mereka bisa ikut terapi psikologi yang membantu menata pikiran mereka. Mereka bisa berfungsi kembali dan kondisi tersebut tetap bisa dipelihara. Kualitas hidup pasien membaik dan menjalani keseharian secara normal.

Lo bisa tonton nih video pengalaman salah seorang schizophrenia survivor.

Sayangnya, di zaman modern ini, masih terdapat beberapa kelompok masyarakat yang belum update terhadap perkembangan ilmu pengetahuan terkini karena alasannya masing-masing. Dengan terbatasnya informasi, mereka mungkin benar-benar takut dan kewalahan melihat dan menghadapi gejala psikosis orang schizoprenia yang asing, sangat tidak masuk akal, dan meresahkan. Pada kelompok masyarakat ini, ga jarang kita temukan orang dengan gangguan mental, khususnya schizoprenia, masih diperlakukan secara memilukan, mulai dari dilempari batu, dikucilkan, ditelanjangi, dikurung di ruangan yang tidak layak, dipasung, tidak dirawat, dianiaya, dsb.


Lebih memilukan lagi, baru-baru ini media internasional sekelas Washington Post merilis sebuah artikel yang menunjukkan potret kehidupan orang dengan gangguan mental di Indonesia di sini. Warning, the article is NSFW. Read at your own risk.


Referensi

  •  https://grey.colorado.edu/CompCogNeuro/index.php/CCNBook/Neuron
  • http://www.dialogues-cns.org/publication/lifetime-stress-experience-transgenerational-epigenetics-and-germ-cell-programming/
  • http://psychopharmacologyinstitute.com/antipsychotics-videos/dopamine-pathways-antipsychotics-pharmacology/
  • Fatemi SH, Folsom TD. The Neurodevelopmental Hypothesis of Schizophrenia, Revisited. Schizophrenia Bulletin. 2009; 35(3):528-548. PMC.
  • Video : early symptoms of schizophrenia https://www.youtube.com/watch?v=YRMo6DnNdnM
  • Karlsson JL. 1970. Genetic association of giftedness and creativity with schizophrenia

Daftar Telusur

  • cara menghadapi penderita schizophrenia
  • pekerjaan untuk penderita skizofrenia
  • pengobatan skizofrenia
  • gejala skizofrenia
  • penyebab skizofrenia
  • obat skizofrenia paranoid
  • penyembuhan skizofrenia tanpa obat
  • tempat pengobatan skizofrenia

No comments

Powered by Blogger.