CARI DI BLOG INI

Profil Kepulauan Spartly dan Proses Persengketaan menjadi Konflik -BAHAN MAKALAH

Profil Kepulauan Spartly dan Proses Persengketaan menjadi Konflik - Kepulauan Spartly diperkirakan memiliki luas 244.700 km2 yang terdiri dari sekitar 350 pulau, yang kebanyakan merupakan gugusan karang. Wilayah ini merupakan batas langsung negara Cina dan negara-negara ASEAN.

Kepulauan Spartly terletak di sebelah Selatan Cina dan Taiwan, sebelah tenggara Vietnam, sebelah barat Filipina, sebelah utara Indonesia, Malaysia dan Brunei Darussalam. Kepulauan ini sebenarnya bukan merupakan yang layak huni, akan tetapi pulai ini memiliki banyak potensi SDA dan geografis yang sangat strategis.

Kekayaan alam yang dimiliki membuat beberapa negara bersikeras untuk mengakui dan mengklaim wilayah tersebut. Selain itu kawasan ini merupakan kawasan lintas laut yang sangat strategis sehingga mampu mendukung perekonomian negara.

Penemuan minyak dan gas bumi pertama dikepulauan ini adalah tahun 1968. Menurut data The Geology and Mineral Resourccs Ministry of the People’s Republic of China (RRC) memperkirakan bahwa kandungan minyak yang terdapat di kepulauan Spratly adalah sekitar 17,7 miliar ton. Fakta tersebut menempatkan kepulauan Spartly sebagai tempat tidur cadangan minyak terbesar keempat di dunia.

Letak strategis lintas laut kapal dan kekayaan SDA lainnya seperti ikan menjadi faktor yang juga sangat mempengaruhi sengketa dan konflik di antara negara-negara bersengketa. Kapal-kapal penangkap ikan yang menangkap ikan disana menjadi salah satu penyebab konflik akibat perbedaan pemahaman dan prinsip antara beberapa negara yang mengklaim wilayah tersebut

Tahun 1947 RRC adalah negara yang pertama mengklaim Laut Cina Selatan dengan membuat peta resmi yang tidak hanya mengklaim pulau-pulau, tetapi juga memberi tanda sebelas garis putus-putus di seputar wilayah Laut Cina Selatan. Meskipun demikian belum ada tanda-tanda pendudukan yang dilakukan oleh RRC di wilayah tersebut pada saat itu. Negara yang lebih dahulu melakukan pendudukan justru antara lain Vietnam, Filipina, Malaysia dan Taiwan.

Konflik akibat sengketa ini cukup banyak terjadi. Dimulai pada konflik bersenjata 1974 antara Cina dan Vietnam yang terjadi kedua kalinya pada 1988. Selain itu pernah terjadi tembak menembak kapal perang antara RRC dan Filipina dekat Pulau Campones tahun 1996. Situasi yang dapat berujung konflik kembali terjadi pada tahun 2011.

Pada waktu itu pasukan militer RRC gencar melakukan pendudukan dan latihan militer di sekitar pulau sengketa. Kemudian Vietnam melayangkan protes kepada Cina atas tindakan tersebut. Namun situasi makin memanas setelah kapal minyak Petro Vietnam dirusak oleh militer Cina pada Mei dan Juni 2011. Vietnam pun melakukan pembalasan dengan mengadakan kegiatan militer rutin tahunan di sekitar Laut Cina Selatan pada Juni 2011.

Sebenarnya sudah banyak upaya yang dilakukan untuk menyelesaikan di antaranya Declaration On the Conduct of Parties in the South China Sea (DOC) pada 4 November 2002. Namun upaya tersebut tidak diindahkan lagi oleh para pihak bersengketa.

Ini akibat prinsip yang keras dan perbedaan pemahaman dalam upaya menyelesaikan sengketa ini. Konflik bersenjata yang dilancarkan pihak tersebut di atas merupakan salah satu wujud tidak dipatuhinya DOC.

No comments:

Post a Comment