CARI DI BLOG INI

Nauzubillah, Pelacuran ABG ini sebuah Kebanggaan atau Ketololan?

Cerita ini diambil dari kisah seorang reporter yang bertemu dengan ABG 17 tahun.  Cerita dimulai dari saat ia di mobilnya sedang keliling kota Jakarta. Rencannya orang ini hendak meliput persiapan kampanye partai-partai yang katanya sudah ada di seputar HI. Aneh, kampanye resminya besok, tapi sudah banyak yang bercokol di putaran HI sejak malam ini.

Kelihatannya mereka tidak mau kalah dengan partai-partai lain yang kemarin dan hari ini telah memanjat patung selamat datang, memasang bendera mereka di sana. Tercatat ada PP, PND, PBB, PKB, PAN dan PK telah berhasil. Dengan korban beberapa orang, tentu saja. Entah apa yang dikejar mereka, para simpatisan itu.

Kebanggaan?. Atau sebuah ketololan.

Kalau ternyata mereka tewas atau cedera, berartikah pengorbanan mereka? Apakah para ketua partai itu kenal sama mereka? Apakah pemimpin partai itu menghargai kenekadan mereka? Lho, kok hanya bicara politik. Biarinlah. Macam-macam saja ulah mereka, maklumlah sudah saat kampanye terakhir buat partai-partai di Jakarta ini.

Di depan kedutaan Inggris orang ini memarkirkan mobilnya, bersama banyak mobil lainnya. Memang hanya terlihat ada beberapa kelompok, masing-masing dengan bendera partai mereka dan atribut yang bermacam-macam.

Orang ini lalu mengkeluarkan kartu persnya, menggantungkannya di leher. Juga Nikon, kawan baik yang menjadi sumber nafkahnya. Ia mendekati kerumunan simpatisan partai. Bergabung dengan masa. Berusaha mencari informasi dan momen-momen penting yang mungkin akan terjadi.

Saat itulah pandangannya bertemu dengan tatap mata seorang gadis yang bergerombol dengan teman-temannya di atap sebuah mini bus. Wajah gadis ini cantik tersenyum kepadnya. Gadis itu memakai kaos partai yang beraliran reformis,---Ia rahasiakan saja baiknya---yang telah dipotong sedikit bagian bawahnya, sehinggs seperti model tank top, sedangkan bawahannya memakai mini skirt berwarna putih.

Di antara teman-temannya, dia yang paling menonjol. Paling lincah, paling menarik.

"Mas, Mas wartawan ya?" katnya kepada si cewek..

"Iya".

"Wawancarai kita dong", Salah seorang temannya nyeletuk.

"Emang mau?".

"Tentu dong. Tapi photo kita dulu..."

Nah dari sinilah berawal cerita ini dan kini dikoleksi dalam kenangan sehingga menjadi sebuah cerita.

Mereka beraksi saat ia mengarahkan kamernya kepada cewek-cewek seksi itu. Dengan lagak dan gaya masing-masing. Mereka berpose.

"Kenapa sudah ada di sini, sih? Bukankah ____ (nama partai) baru besok kampanyenya?".

"Biarin Mas, daripada besok dikuasai partai lain?".

"Memang akan terus di sini? Sampai pagi?".

"Iya, demi ____ (nama partai), kami rela begadang semalaman."

"Hebat."

"Mas di sini aja, Mas. Nanti pasti ada lagi yang ingin manjat tugu selamat datang." Kata gadis yang menarik perhatiannya itu.

Ia pun duduk dekat mereka, berbincang tentang pemilu kali ini. Harapan-harapan mereka, tanggapan mereka, dan pendapat mereka. Mereka lumayan loyal terhadap partai mereka itu, walaupun tampak sedikit kecewa, karena pemimpin partai mereka itu kurang berani bicara. Padahal diproyeksikan untuk menjadi calon presiden.

Ia maklum, karena tahu latar belakang pemimpin yang mereka maksudkan itu.

"Eh, nama kalian siapa?" Tanya salah seorang gadis
 "Saya Coblok (nama samara)"

"Saya Ciblek (nama samaran." Kata cewek manis itu, lalu teman-temannya yang lain pun menyebut nama. Kami terus bercakap-cakap, sambil minum teh botol yang dijual pedagang asongan.

Waktu terus berlalu. Beberapa kali Ia meninggalkan mereka untuk mengejar sumber berita. Malam itu bundaran HI didatangi Kapolri yang meninjau dan 'menyerah' melihat massa yang telah bergerombol untuk pawai dan kampanye, karena jadwal resminya adalah punyal 06.00 - 18.00.

Saat Ia kembali, gerombolan Ciblek masih ada di sana.
Bersambung Kesini

"Saya ke kantor dulu ya, memberikan kaset rekaman dan hasil photonya. Sampai ketemu." Pamitnya.

"Eh, Mas, Mas Coblok! Kantornya "x" (nama korannya), khan. Boleh saya menumpang?" Ciblek berteriak kepadaku.

"Kemana?"